Potensi Energi Terbarukan RI Capai 3.687 gigawatt, Pemanfaatannya Masih kecil di Bawah 0,5 Persen

Jakarta — Indonesia memiliki potensi energi terbarukan mencapai sekitar 3.687 gigawatt (GW). Namun, potensi tersebut hingga kini baru dimanfaatkan kurang dari 0,5 persen.
Temuan tersebut terungkap dalam riset Bank DBS Indonesia bertajuk “The Sustainability Shift: Indonesia’s Industrial Landscape in Five Key Sectors, Opportunities and Risks”. Riset tersebut memotret perubahan arah keberlanjutan di lima sektor strategis Indonesia.
Lima sektor yang dikaji meliputi energi, energi terbarukan dan infrastruktur; teknologi, media dan telekomunikasi; pangan dan agribisnis; kesehatan dan farmasi; serta logam dan pertambangan.
Riset tersebut menunjukkan bahwa isu keberlanjutan mulai bergeser dari sekadar kepatuhan menjadi bagian dari strategi bisnis, ketahanan ekonomi, dan daya saing perusahaan.
Kebutuhan Listrik Diproyeksi Naik Enam Kali Lipat
Di sektor energi, peningkatan penggunaan kendaraan listrik, hilirisasi mineral, kecerdasan buatan (AI), pusat data, hingga elektrifikasi rumah tangga diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan listrik Indonesia secara signifikan.
Konsumsi listrik yang berada di kisaran 300 TWh pada 2024 diproyeksikan meningkat menjadi lebih dari 1.800 TWh pada 2060.
Di tengah peningkatan kebutuhan tersebut, Indonesia sebenarnya memiliki potensi energi terbarukan sekitar 3.687 GW. Namun, pemanfaatannya masih kurang dari 0,5 persen akibat sejumlah tantangan, termasuk keterbatasan jaringan transmisi dan kelayakan proyek untuk mendapatkan pembiayaan.
Peluang pengembangan dinilai terbuka pada energi surya, sistem penyimpanan energi berbasis baterai atau Battery Energy Storage System (BESS), modernisasi jaringan listrik, hingga elektrifikasi industri.
AI Dorong Pertumbuhan Pusat Data
Pergeseran juga terjadi di sektor teknologi, media, dan telekomunikasi.
Pertumbuhan sektor telekomunikasi berbasis konektivitas tercatat melambat dari sekitar 9,69 persen pada 2015 menjadi 7,14 persen pada kuartal I 2026. Di sisi lain, nilai ekonomi digital Indonesia terus meningkat dengan estimasi gross merchandise value (GMV) mencapai sekitar USD99 miliar pada 2025.
Riset tersebut juga mencatat sekitar 79 persen pengguna Indonesia telah mengenal AI. Kondisi ini mendorong kebutuhan terhadap layanan cloud, keamanan siber, dan pusat data.
Pusat data hijau atau green data center pun dinilai menjadi salah satu peluang investasi berikutnya.
Sawit Tak Lagi Cukup Mengandalkan Perluasan Lahan
Pada sektor pangan dan agribisnis, Indonesia disebut memproduksi sekitar 60 persen pasokan minyak sawit dunia.
Namun, pertumbuhan industri ke depan dinilai tidak lagi dapat bertumpu pada ekspansi lahan. Peningkatan produktivitas melalui replanting, peningkatan hasil panen, serta penerapan standar keberlanjutan seperti RSPO dan NDPE menjadi semakin penting.
Peluang investasi juga muncul pada agritech, cold chain, sistem ketertelusuran atau traceability, hingga pupuk organik.
90 Persen Bahan Baku Farmasi Masih Impor
Tantangan berbeda muncul di sektor kesehatan dan farmasi.
Sekitar 90 persen bahan baku farmasi aktif (API) Indonesia masih berasal dari impor, dengan sumber terbesar berasal dari China sebesar 42 persen dan India 11 persen.
Di sisi akses layanan kesehatan, BPJS Kesehatan disebut telah mencakup 98,6 persen populasi. Namun, riset mencatat baru sekitar 2 persen obat inovatif global yang tercakup dalam FORNAS.
Rasio dokter spesialis juga masih sekitar 0,16 per 1.000 penduduk, jauh di bawah kisaran negara OECD yang mencapai 1,5–3 dokter spesialis per 1.000 penduduk.
Indonesia Kuasai 60 Persen Produksi Nikel Dunia
Sementara itu, Indonesia disebut telah menguasai sekitar 60 persen produksi nikel dunia dan berada di peringkat ke-13 sebagai produsen baja terbesar dunia pada 2025.
Namun, ada tantangan besar dari sisi keberlanjutan. Sekitar 97 persen listrik yang digunakan untuk pemrosesan nikel masih berasal dari pembangkit listrik tenaga batu bara captive.
Peluang pertumbuhan berikutnya dinilai berada pada industri hilir, mulai dari komponen baterai, BESS, daur ulang, hingga produk logam rendah karbon. Hal ini menjadi semakin penting seiring penerapan standar global seperti EU CBAM dan Battery Regulation.

Riset DBS Indonesia menyimpulkan terdapat lima langkah strategis yang dapat dilakukan dunia usaha, yakni bergerak menuju rantai nilai yang lebih tinggi, berinvestasi pada infrastruktur pendukung pertumbuhan, memasukkan aspek keberlanjutan ke dalam keputusan komersial, memperluas pembiayaan ketahanan, serta membangun ekosistem yang terintegrasi lintas sektor.
Besarnya potensi tersebut menunjukkan bahwa tantangan Indonesia bukan hanya memiliki sumber daya, tetapi bagaimana mengubah potensi menjadi investasi dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Dengan potensi energi terbarukan mencapai 3.687 GW tetapi pemanfaatannya masih di bawah 0,5 persen, menurut kamu apa yang paling menghambat Indonesia untuk mengoptimalkan energi terbarukan?
