Pentolan Sound Horeg siap kencangkan Suara Gibran Pada pilpres 2029.

Konsolidasi politik menuju Pilpres 2029 rupanya sudah mulai bergerak dari akar rumput. Sejumlah pengusaha sound horeg asal Jawa Tengah dan Jawa Timur, yang tergabung dalam relawan Gibran Penerus Jokowi (GPJ), menyambangi kediaman Presiden ke-7 RI Joko Widodo di Solo, Selasa (11/8/2026).

Ketua Umum GPJ, Joko Loreng, menegaskan kunjungan ini bukan sekadar silaturahmi biasa.

“GPJ sudah lama terbentuk. Ini aktif lagi untuk persiapan Pilpres 2029 nanti,” ujar Joko.

Salah satu perwakilan bos horeg, Devid, bahkan blak-blakan menyebut tiga tujuan kedatangan mereka ke Solo.

Kunjungan Kerumah Presiden Jokowi Dodo

“Ya kunjungan kami ke sini, yang pertama silahturahmi. Yang kedua, kami kan kemarin sempat mendukung untuk kegiatan Mas Gibran. Sedangkan yang ketiga, kita mohon arahan petunjuk dari beliau kedepan seperti apa,” terang Devid.

Yang bikin geleng-geleng kepala, GPJ mengklaim sudah memiliki 130 ribu anggota relawan yang siap bergerak kapan saja demi mengawal Gibran Rakabuming Raka di 2029 — sebuah angka yang, jika benar, tentu bukan kekuatan politik kaleng-kaleng.

“Kami tetap solid dari tim horeg. Kita menunggu petunjuk dari beliau ke depan seperti apa,” tambah Devid.

Namun klaim mesin politik raksasa ini justru berbanding terbalik dengan realitas di lapangan. Survei terbaru Median yang dirilis awal September 2026 justru menunjukkan elektabilitas Gibran ambruk parah — hanya di angka 2,0 hingga 2,6 persen, jauh tertinggal dari Dedi Mulyadi (19,8 persen) dan Anies Baswedan (19,5 persen) yang bersaing ketat di posisi kedua.

Padahal beberapa bulan sebelumnya, di awal 2026, survei Indekstat masih menempatkan Gibran sebagai cawapres dengan elektabilitas tertinggi, mencapai 21,1 persen. Artinya dalam hitungan bulan, posisi Gibran anjlok drastis di benak publik — meski di lapangan, mesin relawan justru semakin gencar dikonsolidasikan.

Pengamat politik Hasyim bahkan menilai duet Prabowo-Gibran sejauh ini masih sulit dikalahkan, kecuali muncul koalisi penantang sekuat gabungan Anies dan PDIP.

“Atau setidaknya mengimbangi: persatuan Anies dan PDIP,” kata Hasyim.

Kalau elektabilitas Gibran di survei publik terus melorot, tapi konsolidasi barisan pendukungnya justru makin masif dan militan, sebenarnya siapa yang lebih menentukan jalan Gibran ke kursi presiden — rakyat pemilih, atau mesin politik yang dibangun dari belakang layar?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *